Connect with us

Pristiwa

Gagal Produksi Kolam Ikan nya akibat Limbah Pt CPI,Oktowarmi Gugat PT. Chevron Pasific Indonesi(PT.CPI) Di Pengadilan Negri Siak.

Published

on

Foto : Kataren Siak

PORTALPINGGIR.COM MINAS-SIAK kontaminasi limbah PT.CHEVRON PASIFIC INDONESIA(PT.CPI) di kolam ikan tawar milik oktowarmi gagal berproduksi selama puluhan tahun lamanya,Oktowarmi, warga Kelurahan Minas Jaya, melalui kuasa hukumnya Dedy Felandry SH.,LL.M.DKK, menggugat PT Chevron Pasific Indonesia (PT CPI) di Pengadilan Negri (PN) Siak, atas dugaan kasus pencemaran lingkungan limbah minyak mentah milik PT CPI di lahan miliknya seluas 3600 M². Tercatat pada gugatan No:I/pdt.G/2020/pn.Siak pada senin tgl 13 Januari 2020.

lahan milik Oktowarmi itu turun menurun dari orng tua oktowarmi semenjak oktawarmi berusia sekitar 8-9 tahun yg di lakukan dgn cara manual diatasnya terdapat sejumlah kolam ternak ikan tawar akibat kontaminasi limbah tersebut kolam miliknya itupun gagal berproduksi selama puluhan tahun lamanya, yang terletak di RT 1 RW 5, Kelurahan Minas Jaya, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Saat oktowarmi mau meningkatkan hasil produsinya dgn menggali kolam lebih dalam,ternyata didalam kolam terdapat limbah minyak menta yg sudah puluhan tahun,Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Oktowarmi, kepada awak media portal pinggir.Com dia mengungkapkan bahwa dalam kasus ini dirinya menuntut pihak PT CPI agar membayarkan kerugian yang selama ini dialaminya akibat kontaminasi limbah tersebut.

“Awalnya kita menuntut kerugian usaha pembibitan ikan dari tahun 2012, sebesar Rp 3 Miliar. Berharap selesai di fasilitasi oleh DLHK Riau, namun melihat tidak adanya itikad baik dari pihak CPI maka kita terpaksa menaikkan tuntutan sesuai fakta yang ada, yakni lahan itu sudah tercemar sejak tahun 1981, jadi saat ini kita tuntut ganti rugi sebesar Rp 12 Miliar.” Ungkap Oktowarmi kepada Awak media portal.pinggir.Com, Sabtu (11/04/2020).

kontaminasi limbah PT CPI, kolam Ikan Oktowarmi gagal berproduksi selama puluhan tahun lamanya
Dijelaskan dia, tuntutan yang diberikan olehnya memang bukan berdasarkan luas tanah, akan tetapi berdasarkan kerugian hasil produksi yang hilang selama bertahun-tahun lamanya akibat kontaminasi limbah itu. “Untuk perbaikan satu kolam saja pada tahun 2009 kita habis Rp 90 Juta. makanya kita tuntut seperti itu, mirisnya lagi selama ini ikan-ikan saya mati semua kalau disaat musim panas, ikan-ikan itu hanya bisa bertahan kalau musim hujan saja, masa kata PT. CPI ganti rugi mereka berikan hanya bayar nilai kontark tanah selama pembersihan, katanya dasar hukum dari SKK-Migas, dan KJPP (Kantor Jasa Pelayanan Publik) yang dibentuk oleh depertemen keuangan. Sementara kerugian produksi kami tidak dihitung, kan tidak wajar,” keluhnya.

Baca Juga  Di Duga Mengantuk, Mobil Truk CPO Seruduk Rumah Warga di Muarabasung 2 Orang Korban di Larikan ke Rumah Sakit.

Dikisahkan dia, selama ini dirinya telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki kolam miliknya itu, namun dikarenakan kontaminasi limbah semua upaya yang dia lakukan hanya sia-sia belaka. “Itu sudah saya laporkan kepada PT CPI sejak tahun 2013 lalu, dan tidak ditanggapi, akhirnya saya buat laporan kepada Gubernur Riau, barulah ditanggapi oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Riau.

Dalam hal ini DLHK Riau mengambil sikap sebagai fasilitator, dan memerintahkan Chevron untuk menyelesaikan area limbah yang kita maksudkan. Hanya saja PT CPI mengukur luasan lahan kita yang terdampak itu hanya seluas 1084 M², padahal luas lahan saya yang sebenarnya dan terkontaminasi oleh limbah itu seluas 3600 M².” Katanya lagish
Lebih jauh dikisahkan dia, akibat perhitungan yang dibuat oleh DLH Riau dan PT CPI tidak sesuai dengan fakta yang dirasakannya, oleh karena itulah dia mengajukan kasus ini ke Pengadilan Negri Siak, guna membuktikan luasan lahan miliknya yang tercemari oleh limbah milik PT CPI.

kontaminasi limbah PT CPI, kolam Ikan Oktowarmi gagal berproduksi selama puluhan tahun lamanya.
Selain itu lanjutnya, dia pun telah menurunkan tim laboratorium dari Jakarta, untuk membuktikan pernyataannya itu, “saya ambil tiga titik, hulu, hilir dan tengah, dari hasil pengecekan pihak laboratorium menyatakan bahwa terbukti di lokasi itu adalah aliran rekam jejak bahwa seluruh lahan saya itu daerah terkontaminasi. Setelah hal ini terbukti, lalu saya minta pengacara saya untuk langsung ke Pengadilan untuk menuntut hak saya itu,” katanya.

Baca Juga  Tower jaringan Indosat di 125 duri Dilahap Sijago merah. Api diduga berasal konsleting listrik.

“Kami menutut ini, dikarenakan kami semua adalah petani, bukan pekerja atau anak buah Chevron, oleh karenanya saya meminta kepada pihak Chevron tolong perlakukan saya seadil-adilnya, bayarlah kerugian selama ini, sebab saya ingin usaha kolam ikan saya itu berjalan kembali sebagai mana mestinya.” Imbuhnya.

Dalam hal ini, dia juga meminta kepada seluruh masyarakat yang senasib dengan dia, untuk membuka mata, bahwa kata dia, hidup ini bukan dibawah ataupun perintah Chevron semuanya. “Jadi semenjak tahun 2013 lalu kolam ikan saya sudah tidak saya fungsikan lagi, karena saya sudah capek menunggu keputusan dari Chevron, dan menunggu putusan Pengadilan,” urainya.

“Jadi disini kita menuntut pertanggungjawaban PT Chevron terhadap kontaminasi limbahnya dilahan kami sejak tahun 1981 hingga saat ini, tolong bayarkan kompensasi seluruh masyarakat yang ada di gang sederhana itu sesuai dengan akal sehat.” Pungkasnya.

Liputan:irianto ketaren.sh

Users ( votes)
Criterion 1
What people say... Leave your rating
Sort by:

Be the first to leave a review.

User Avatar
Verified
{{{ review.rating_title }}}
{{{review.rating_comment | nl2br}}}

Show more
{{ pageNumber+1 }}
Leave your rating

Your browser does not support images upload. Please choose a modern one

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: